Penulis Sanento Yuliman
Editor Asikin Hasan
Halaman 321
Penerbit Yayasan Kalam
Diterbitkan Januari 2001
Tentang Penulis
Di masa kecilnya, Sanento Yuliman pernah bercita-cita menjadi presiden. ''Tetapi, kemudian, itu tidak menarik lagi. Entah mengapa,'' ujar seniman yang pada 1966-1975, bersama Jim Supangkat dan Hardi, tampil sebagai pencetus ''Seni Rupa Baru Indonesia''. Ia juga dikenal sebagai penulis, kritikus seni, dan dosen tetap Jurusan Seni Rupa ITB.
Bakat seninya sudah terlihat sejak di SD, dan bakat itu segera mendapat bimbingan ayahnya, Almarhum R.S. Hadiwardoyo, yang semasa hidupnya menjadi patih di Majenang. ''Nilai pelajaran menggambar saya di SD selalu terbaik,'' tutur Sanento. Bakat sastranya juga mulai berkembang sejak di SD, lewat buku-buku yang dipinjamnya di Perpustakaan Umum P & K di Yogyakarta. Ia mulai menulis di kelas I SMP, dan termuat di lembaran remaja Kawanku, harian Kedaulatan Rakyat di kota yang sama.
Setelah menyelesaikan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), 1968, bekas pemimpin redaksi mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung, ini pergi ke Paris. Di sana, pada 1981, ia mengambil gelar doktor pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dengan disertasi berjudul Genese de la Feinture Indonesienne Contemporaire: Le Role de S. Sudjojono.Berambut agak gondrong hingga menutupi telinga, berjanggut dan berkumis tipis, Sanento menampilkan sosok bersahaja. Perantauannya ke Prancis seperti tidak membekas pada sikapnya yang mempribumi. Lewat tulisannya di majalah Swasembada, Juli 1985, misalnya, ia mengecam arsitektur di Indonesia yang memakai AC. ''Mengapa para arsitek tidak menghargai alam, untuk membuat ruangan yang cukup nyaman bagi kita, orang tropis?'' tulisnya.
Di samping sibuk mengajar, ayah seorang anak ini gemar menjelajahi daerah-daerah di Indonesia. Dari pengamatannya itulah, ''Saya berani berkata bahwa Seni Rupa Indonesia telah ada di bumi Indonesia sejak perkembangan peradaban di tanah air ini.''
Sesekali ia menulis di media massa. Bersama Jim Supangkat, ia menulis buku G. Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia, PT Gramedia, 1982. Buku ini berisikan kumpulan tulisan Sanento Yuliman yang merespon dunia kesenian di Indonesia. Walaupun diterbitkan Januari 2001, bobot tulisan dan materi yang tersampaikan masih hangat dan aktual. Penyusunan buku sangat menarik dan mampu menggiring pembaca dalam sebuah situasi kondisi saat terjadi proses penulisan.
Resensi
Buku berjudul Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman ini tersusun dalam 3 (tiga) bagian yang masing-masing bagiannya memiliki pokok bahasan tersendiri namun saling melengkapi dan mendukung.
- Bagian satu: Seni Rupa dalam Dunia Rupa Segala gejala seni rupa yang kajiannya dihubungkan dengan lingkup kerupaan. Termasuk dalam dunia rupa baik itu produk atau benda-benda yang berkaitan dengan keseharian, tradisi dan budaya. Dunia rupa pada dasarnya hidup dalam berbagai kebudayaan di segala penjuru dunia dan terus berkembang di segala zaman. Dunia rupa dikenal sebagai ”visual art” yang tidak membeda-bedakan antara desain, ”seni murni (seni lukis, patung, dan grafis) dan kriya (craft) dalam tingkatan populer atau tidak populer (tinggi – rendah). Pemikiran kritis Sanento tentang dunia rupa (visual art) tidak meninggi-rendahkan seni murni dan seni terapan. Detil pemikiran tentang dunia rupa sangat terasa dalam
- Peristilahan Gambar
- Tradisi Lukis di Indonesia: Lukis dalam Pengertian Sediakala
- Tradisi Lukis di Indonesia: Tangan yang Melambai di Dinding Batu
- Tradisi Lukis di Indonesia: Teknologi Melukis di Zaman Candi
- Seni / Desain
- Dua Seni Rupa
- Yang Modern dan yang Antik
- Barang dan Pembebasan
- Seni Rupa dalam Kehidupan Kita Sekarang
- Timbal Balik Apa yang Diperlukan
- Bagian Dua: Seni Rupa dalam Dunia Modern Praktek seni rupa di Indonesia yang paling banyak mendapat perhatian adalah praktek seni rupa dalam wacana fine art. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Praktek seni rupa dalam wacana fine art ini adalah tradisi yang diadaptasi dari kebudayaan barat yang kemudian lebih dikenal sebagai seni rupa modern. Dalam prakteknya seni rupa modern diyakini mendunia dan menjadi bagian dari kehidupan modern. Namun kenyataannya seni rupa modern ini sering berseberangan dengan semangat tradisi seni rupa yang hidup di berbagai tempat. Sanento mengkaji praktek seni rupa modern di Indonesia yang masih mencari identitas, serta menyoroti berbagai konflik yang muncul pada dunia seni rupa modern. Pemikiran-pemikirannya tertulis dalam:
- Kelahiran Seni Rupa Modern di Indonesia
- Mencari Indonesia dalam Seni Lukis Indonesia
- Seni Lukis di Indonesia: Persoalan-Persoalannya, Dulu dan Sekarang
- Seni Lukis Indonesia Baru
- Dimensi yang Tersisihkan
- BOOM! Kemana Seni Lukis Kita?
- Monumen Grafis 17 Agustus 1946
- Seni Patung Baru di Indonesia
- Tradisi dan Kekinian
- Lahirnya Seorang Pematung
- Mengatasi Pengangguran Artistik
- Ke Mana Semangat Muda?
- Perspektif Baru
- Seni Rupa Sehari-hari Menentang Elitisme
- Bagian Tiga: Menggali Makna Pada Pameran Sekumpulan tulisan Sanento pada kurun waktu 1981 hingga 1991 yang tersusun secara kronologis. Tulisan-tulisan tersebut dimuat dalam rubrik Seni Rupa majalah mingguan Tempo. Sanento menjadi kritikus tetap majalah berita mingguan Tempo. Penjelajahan pameran-pameran yang tidak melulu seni lukis, beliau lakukan untuk memperkaya cara pandangnya dalam dunia seni rupa.
- Pada bagian ini ia tertarik untuk menulis kritik tentang seni patung, seni grafis dan bahkan pameran desain dan juga pameran-pameran yang melahirkan media-media baru. Beliaulah yang mengenalkan istilah ”Instalasi” kepada dunia seni rupa Indonesia. Luasnya perhatian di berbagai gejala seni rupa, beliau perhatikan dan memberikan sikap yang tidak hanya berdasarkan wacana ”fine art”.
Kesimpulan
Sanento mampu melontarkan kritik yang tajam terhadap perkembangan seni rupa di masanya, namun bukan hanya sebatas wacana dunia seni rupa yang terpilah dalam seni murni dan seni terapan dengan tidak meninggi-rendahkan produk seni rupa tertentu. Beliau membuka wacana tentang dunia seni rupa sekarang (modern) yang pada masa sekarang ini memiliki tantangannya sendiri, bahkan produk seni rupa yang terbentuk dari berbagai konsentrasi aliran seni rupa dapat terwujudkan, yaitu seni instalasi. Gebrakan dahsyat untuk dunia seni rupa saat itu. Buku ini mampu menjadi bagian dari pustaka seni rupa Indonesia sekarang dan masih kontekstual.

0 comments:
Post a Comment